Selasa, 20 November 2012

Coba-coba cerpen

halo, guys, lama gak update blog, lagi sibuk-sibuknya xD
kebetulan guru bahasa Indonesia suruh buat blog, jadi ane update lageeeeee wkwkwkw
eh ane baru buat cerita nih, genrenya detektif, ini part 1-nya, part selajutnya menyusul eaps ;)
Hai perkenalkan, namaku wisp, ya itu bukan nama asliku, aku lebih sering dipanggil docx. Aku sekarang duduk di kelas X di sebuah SMA di kota dekat desaku. Seperti anak-anak biasa lainnya, aku tak punya hal spesial dari diriku, seperti penglihatan super, kekuatan supranatural dan sebagainya. Namun, aku percaya, setiap manusia pasti memiliki kekuatan yang berbeda dari yang lainnya. Aku mulai sadar ketika aku membaca banyak kisah detektif yang kebanyakan anak SMA adalah detektifnya, Shinichi Kudo, dia anak biasa sebelumnya, kecerdikannya yang buat ia menjadi detektif, Kindaichi, Light Yagami(meski dia tidak selalu baik). Aku sadar, semua punya kemampuan, dan itu pilihan seseorang untuk memilih bidang apa yang akan dia kembangkan.
Baik, jadi beginilah aku, aku memilih untuk membuat diriku berkembang menjadi seorang investigator atau mungkin seorang agen rahasia. Tapi aku hanyalah anak SMA, aku tidak mungkin ikut jaringan agen rahasia, hehe. Aku tidak ingin berputus asa, aku sering mencari-cari artikel di internet tentang investigasi, identifikasi, dan analisis, dan akibatnya aku jadi cukup tahu mengenai bagaimana seorang detektif menyimpulkan kesimpulannya. Di negaraku ini aku tahu, badan intelijennya masih kalah bila dibandingkan dengan badan intelijen negara-negara barat dan minat seperti yang aku punya pasti dimiliki banyak remaja seusiaku yang banyak dipengaruhi oleh bacaan-bacaan berbau identifikasi dan investigasi. Hal itu sangat rawan, dimana intelijensi mereka akan dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab, karena itu aku berusaha mencari sebuah komunitas, dimana anak-anak seperti aku ini dapat saling menyapa dan berbagi ilmu. Dan kulihat jejaring sosial di internet sebagai media yang baik untuk mempertemukan anak-anak seperti diriku ini.
Sebenarnya, minatku pada dunia seperti ini sudah kutunjukkan sejak aku SMP, aku melihat bagaimana detektif menyelesaikan kasus dengan keren, dan ‘cahaya’ yang dibawa para detektif itu untuk menerangi dunia ini dari gelapnya dunia kejahatan membuatku tertarik menjadi seperti mereka. Namun, aku mengerti, menjadi detektif bukanlah soal keren dan jasa yang kau berikan, ini adalah soal minat dan rasa ingin tahu. Tanpa keduanya, mungkin minat akan mudah hilang.
ketika tekad dan rasa ingin tahu memuncak, di saat itulah kau butuh seorang teman untuk menjadi referensimu. Yap, aku sungguh beruntung memiliki teman-teman SMP yang berminat di bidang yang sama denganku. Aku sungguh terbantu dalam menekuni minatku, terlebih lagi karena orang tuaku yang selektif dalam memilihkan bahan bacaan untukku, jadi dengan kehadiran teman-teman SMP yang seminat ini menambah pengetahuanku. Gusto, salah satu teman SMPku yang seminat dengaku yang mungkin cukup dekat denganku, karena kami selalu pulang bersama dengan angkuta. Haha, aku belajar banyak darinya, mulai dari teknik menyandikan/enkripsi, cara menganalisis death message, dan banyak lagi. Dia jugalah yang mengenalkanku pada Sherlock Holmes, salah satu detektif fiktif paling Monumental sepanjang sejarah menurutku. Sejak saat itu, aku jadi keranjingan membaca karya-karya Sir Arthur Conan Doyle itu. Bagiku, Holmes dan sahabatnya Watson adalah duo yang menyinari langit kota london yang berkabut dan penuh dengan penjahat. Salah satu kemampuan Sherlock Holmes yang membuatku kagum padanya adalah kemampuan deduksinya, ini semacam teknik analisis yang melibatkan kebiasaan yang sering diamati, dan kejelian serta ketelitian. Sungguh, aku sangat ingin dianugerahi kemampuan menakjubkan seperti ini ! Aku begitu terobsesi dengan kemampuan ini, jadi mulai saat itu juga, aku mulai belajar kemampuan deduksi, dengan objeknya teman dekat dan terkadang orang tua. Setelah sekian lama belajar, mencoba, dan gagal aku mulai menguasai sedikit kemampuan deduksi. Hal yang mungkin akan menyebabkanku terlihat seperti mata-mata yang mengganggu.
kembali ke Gusto dan teman-teman SMPku. Gusto sekarang bukan lagi menjadi seorang guru bagiku, dia sudah menjadi seorang ‘partner’ku. Selain Gusto, aku memiliki teman-teman lain yang seperti Gusto, ada Kaito, dia mungkin lebih tepat dijuluki Cassanovanya kelasku, dia memang seperti Kaito di Detektif Conan dan Magic Kaitou, kadang dia baik dan kadang dia tidak tertebak. Ada juga Firdi, dia unik, dia eksentrik, dan dia punya pemikiran yang unik, dia adalah pecinta lingkungan, dan logikanya baik, cukup untuk mengajakmu berdebat tentang kebenaran sebuah soal, dan masih banyak lagi teman. Yah, memang kami terlihat konyol dengan semua pemikiran dan ide gila kami apalagi, aku, Gusto, Kaito dan Firdi tidak ditempatkan di kelas biasa, jadi kadang bila kami bertemu anak lainnya, Gusto terutama akan jadi pembuat lelucon, berbeda dengan Kaitou, dia punya relasi yang cukup baik dengan anak-anak lainnya apalagi dengan wanita. Kisah pertemanan kami seakan berakhir ketika kami lulus SMP. Kaitou, Gusto, dan Firdi bersekolah di timur sedang hanya aku sendiri yang bersekolah di barat. Kisah kami pun berbeda, di sekolah mereka, mereka adalah anak yang cerdas dilihat dari nilai ulangan mereka dan ranking mereka, berbeda denganku, bukannya berniat menyombong, tapi aku di SMAku ini  bukanlah apa-apa ketimbang aku ketika SMP, aku hanya masuk 10 besar ketika semester 1.
Meski berbeda sekolah, kami masih sering bertemu meski jarang. Paling tidak kami masih bisa saling kontak dengan alat elektronik. Seiring berjalannya waktu, mereka kami mulai jarang bertemu di komunitas analisis dan investigasi di dunia maya. Entah karena mereka sibuk atau bagaimana. Sejauh aku memasuki SMA ini, aku belum melihat ada temanku yang tertarik dengan minat yang sama denganku. Aku cukup sedih mengetahui hal tersebut. Tidak ada teman untuk berbagi hal yang telah menjadi minatku. Aku hanya bisa menggunakan kemampuan deduksiku, di sekolah baruku ini memang banyak orang yang menyukai anime dan manga, lebih banyak daripada saat aku SMP dulu. Jujur saja, aku masih belum bisa sepenuhnya beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Ketika aku masuk SMA ini, aku merasakan kemampuan analisisku menurun, aku sekarang agak kesulitan menerjemahkan sandi dan kode, atau mengenkripsinya, kemampuanku menganalisis kasusku pun sepertinya telah berkurang semenjak aku di sini. Di sekolah baruku ini, memang agak kecil, dan minimalis, gaya yang diterapkan mungkin mencontoh bangunan rumah Eropa di bagian depan, dengan dua pilar besar dan sebuah balkon. Suasana di sini berbeda jauh dengan SMPku yang luas dan sepi, di sini jika kau keluar dari gerbang, maka kau akan langsung menemui jalan besar.
Hari-hari berganti saat aku SMA dengan SMP sangatlah berbeda, dulu, meski aku sudah kelas IX, aku masih bisa agak santai, hari-hari berlalu seperti bulu yang tertiup angin, ringan dan mengalir~ sekarang hari-hariku aku lebih sering habiskan di luar rumah dengan les-les yang hampir setiap hari ada, ya orang tuaku sangat menyayangiku, mereka tak ingin aku gagal. Selama aku belajar di sini, aku belum temukan sesuatu atau seseorang yang dapat memicuku untuk memecahkan suatu masalah. Tidak ada sampai aku bertemu dengan seorang anak yang menarik perhatianku, hari-hariku menjadi lebih berwarna sekarang, namun aku masih merasa ada yang kurang dalam diriku, aku membutuhkan seorang ‘partner’ seperti Gusto ketika aku SMP dulu. Tak kujumpai orang seperti Gusto, Kaitou maupun Firdi di sini. Hampir mirip pun tidak ada, sama sekali belum kutemui, baik dari saudara seangkatanku maupun kakak angkatanku. Apa aku yang salah, dengan mencari-cari kemiripan orang lain  sehingga aku tidak menyadari dan tidak kutemukan ?
Akhir-akhir ini, setiap akhir minggu aku jadi sering bertemu Gusto lagi, kudengar dia sedang menulis cerita tentang detektif, dengan dia sebagai tokoh utamanya. Dan hal yang membuatku tertawa kecil adalah, aku seorang polisi di ceritanya. Benar-benar tidak terduga. Aku cukup senang masih bisa bertemu dengannya. Walau hanya 4 kali dalam sebulan. Meski dia tidak mengatakannya, aku tahu dari raut mukanya, dia juga belum menemukan teman sekelasnya yang seminat dengannya.





-TO BE CONTINUED-

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar